#

Mau Menjadi Orang Tua yang Baik? Pahami ini !

11 comments
tips untuk orang tua dalam mendidik anak

Jika diberi kesempatan, setiap orang akan memilih berperan sebagai orang baik. Lalu akan menjadikan Rasulullah SAW sebagai panutan untuk menjadi orang tua yang baik dan meraih keberkahan dalam rumah tangganya. Sayangnya kebanyakan kita saat ditanya lebih lanjut mengenai Rasulullah SAW, justru bingung dalam mendefinisikannya.

Islam sebetulnya sudah memberikan pedoman dan sosok suri tauladan terbaik untuk ditiru agar bisa menjadi orang tua yang baik. Namun saat ini justru lebih banyak yang masih gamang. Untuk menjawab kegamangan tersebut, kali ini saya akan menuliskan artikel yang terinspirasi dari salah satu kegiatan di Kelas Bubby.

Kelas Qur’anic Parenting for Muslim Family, Kurikulum Pendidikan Berbasis Qur’an yang dinarasumberi oleh Nisa Nur Arifah. Teh Ncha merupakan seorang parenting enthusiast, praktisi FBE & PAB, sekaligus penulis di Carita Parenting.

Beliau adalah ibu dari dua orang anak. Teh Ncha yang lahir di Bandung dan berdomisili di Soreang ini juga merupakan founder dari @whitebee_schooloflife dan @lulusmartbag. Jika ingin mengetahui lebih jauh mengenai Teh Ncha, Vie bisa mengunjungi akun instagramnya di @nisanurarifah.

Menjadi Orang Tua yang Baik

Sebagai orang tua, adakah pesan yang ingin disampaikan ke anak keturunan Vie nantinya? Kira-kira pesan seperti apakah itu? Akankah Vie berpesan kepada mereka untuk menjadi anak yang sholeh dan gemilang?

Jika iya, sudahkah Vie berusaha membekali mereka agar menjadi generasi sholih dan gemilang? Sudah tahukah Vie akan sosok generasi gemilang yang akan dijadikan role model dalam mendidik anak? Sudah siapkah Vie meninggalkan mereka? Sudah cukup kuatkah mereka untuk ditinggalkan kelak?

Contoh Generasi Muslim Sholih dan Gemilang

Agar mampu menjadi versi terbaiknya dalam mendidik keluarga, orang tua harus tahu siapa yang akan dijadikan role model. Sebagai gambaran, berikut ini adalah contoh generasi muslim sholih dan gemilang yang bisa Vie jadikan suri teladan

Rasulullah SAW

8 tahun magang, ikut berdagang bersama pamannya ke Syam

12 tahun punya ternak sendiri, melakukan perniagaan mandiri.

20 tahun mendapat investor, dipercaya mengelola bisnis Khadijah binti Khuwailid.

25 tahun Nabi Muhammad SAW menguasai pasar dan menikahi Khadijah dengan mahar 20 unta merah.

40 tahun diutus menjadi Nabi dan menguasai jazirah Arab. Lalu menyebarkan Islam hingga tersebar luas di seluruh dunia.

Usamah bin Zaid

14 tahun dinikahkan oleh Rasulullah SAW

16 tahun ditunjuk menjadi panglima perang Tabuk melawan Romawi

Zaid bin Tsabit

12 tahun dikenal sebagai sosok yang sangat cerdas

21 tahun diamanahi untuk menghimpun wahyu

Saad bin Waqash

17 tahun dikenal sebagai pemanah dan penunggang kuda terbaik

Imam Syafi’i

14 tahun menjadi mufti

Al-Khawarizmi

10 tahun menjadi penemu teori-teori matematika

16 tahun menjadi guru besar

Ibnu Sina

Menjadi pakar kedokteran dunia saat usia 17 tahun.

Muhammad Al Fatih

12 tahun menjadi Sultan lalu menjadi Gubernur

21 tahun menaklukan Konstantinopel

Panduan Hidup Seorang Muslim

petunjuk hidup umat manusia

Setiap anak terlahir dengan fitrah suci, sholeh, dan mengenal Tuhannya. Setelah dia terlahir ke dunia, kualitas fitrah itu menjadi tanggung jawab ayah dan ibu. Tanggung jawab pendidikan itu lebih besar di tangan ayah.

Jika Vie mengamati peristiwa pandemi, tidak sedikit yang mengeluhkan momentum tersebut. Padahal ada hikmah besar yang ingin Allah sampaikan melalui pandemi. Hikmah yang dimaksudkan yaitu agar para orang tua kembali ke fitrahnya, menjadi pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Ketika Alah SWT melihat hamba-Nya menjauh dan terus menjauh dari fitrah, maka Dia harus memaksa hamba-Nya agar mau kembali kepada fitrah. Saat kasus pandemic mulai booming, banyak permasalahan yang muncul. Orang-orang mulai kuwalahan saat menjalani masa pandemic. Ada banyak pasangan yang bercerai karena berbagai alasan, terutama karena persoalan ekonomi.

Para orang tua juga turut mengeluh tidak kuat dan tidak siap akan kebijakan Study from Home (SFH). Padahal itu adalah tugas utama dari ayah dan ibu. Setiap dari kita adalah pemimpin, dan setiap dari kita akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya.

Maka solusi dari keluhan tidak kuat dan tidak siap tadi yaitu kembali ke fitrah (kembali ke Allah SWT, kembali ke Islam). Pernahkah Vie bingung saat mencari solusi dari permasalahan hidup? Tidak tahu harus kemana atau kepada siapa agar bisa mendapatkan solusi terbaik.

Sebagai seorang muslim ketika bertanya pendidikan yang terbaik itu seperti apa, ataupun permasalahan lainnya, seharusnya mencari jawabannya pada panduan hidup yang telah diberikan. Sebagai umat muslim, kita sudah diberikan panduan hidup terbaik, yaitu Al-Qur’an, Al-Hadits & Siroh, Jumhur Ulama, dan Riset.

Vie perlu ingat bahwa anak dan apapun yang diamanahkan kepada Anda adalah milik Allah SWT. Allah SWT yang paling tahu tentangnya, hanya Dia yang mampu merubahnya. Jadi seharusnya hal pertama yang dilakukan yaitu yakin dulu kepada Allah SWT, lalu mencari jawabannya di dalam Al-Qur’an.

Setelah mencari tahu apa yang dikatakan oleh Al-Qur’an lalu cari jawabannya di hadits dan siroh. Setelah itu barulah cek pendapat Jumhur Ulama, dan yang terakhir barulah menilik jawaban dari hasil riset.

Konsep Pendidikan Ala Rasulullah SAW

pengertian aqil baligh


Baligh merupakan hal yang pasti terjadi sedangkan aqil itu belum pasti, namun baligh saja tidak cukup. Anak juga membutuhkan aqil atau dewasa secara mental agar siap memikul beban syari’at. Maka idealnya generasi kita seharusnya aqil dan baligh pada waktu bersamaan.

Faktanya, saat ini generasi kita mengalami baligh jauh lebih cepat dibanding aqilnya. Sebagai gambaran, anak-anak mulai baligh saat usia 11 tahun dan aqil saat usianya 25 tahun. Dari sini kita dapat simpulkan bahwa seharusnya ada ikhtiar kedewasaan yang lebih cepat.

Disaat yang bersamaan pula harus diikhtiarkan agar balighnya tidak terlalu cepat. Salah satu yang mempengaruhi percepatan baligh ini yaitu karena faktor nutrisi yang tidak berasal dari makanan alami, dan justru konsumsi makanan yang mengandung pengawet, perasa, serta pewarna. Sebelum anak menjelang baligh, sebagai orang tua harus menyiapkan aqilnya agar kelak ia siap memikul beban syari’at.

Kembali ke Fitrah, Kembali ke Rumah


Hadits tentang kembali ke fitrah itu menyebutkan bahwa pendidik utama dan pertama adalah ayah dan ibu. Ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya dan ayah adalah kepala sekolahnya. Jadi tanggung jawab terbesar seorang anak itu ada di ayah.

Inilah salah satu alasan yang mendasari kenapa anak harus dinisbatkan kepada ayah. Ayah dan ibu harus hadir dalam kehidupan anak. Selain itu orang tua juga harus bisa menguatkan kualitas pendidikan rumah, karena tidak ada yang lebih ikhlas mendidik anak selain orang tuanya.

Orang tua harus meyakini bahwa Allah SWT yang menitipkan anak kepada Anda untuk mendidiknya. Maka yakinlah bahwa Vie mampu untu mendidiknya. Sedangkan peran sekolah dalam pendidikan anak adalah sebagai partner.

Peran Ayah

Seorang Ayah bertugas sebagai kepala sekolah yang membuat visi misi, menyediakan fasilitas, menyejahterakan keluarga, dan mengadakan evaluasi. Sayangnya masih banyak yang berfikir bahwa tugas ayah hanya mencari nafkah. Padahal itu hanyalah salah satu dari sekian banyak tanggung jawab seorang ayah.

Ayah tidak harus bertemu 24 jam dengan anaknya. Namun ayah perlu kembali ke fitrahnya sebagai seorang kepala sekolah. Dimana ia harus maksimal memanfaatkan waktunya saat bertemu dengan anak dan istrinya.

Ayahlah yang paling tahu arah pendidikan. Jadi Ibu bisa berkonsultasi kepada ayah mengenai pendididikan anak kedepannya. Ayah memiliki peran dalam memberikan supply maskulinitas (baik untuk anak laki-laki maupun perempuan), ego, tega, dan progresif.

Sayangnya menurut Ibu Elly Risman, Indonesia adalah negara yang fatherless (negara tanpa ayah). Mungkin Vie pernah mendengar jargon “Ayah Ada Ayah Tiada”, maksudnya yaitu ayah ada di rumah tapi ia tidak menjalankan perannya. Padahal ayah adalah pahlawan pertama bagi anak laki-lakinya, dan cinta pertama bagi anak perempuannya.

Peran Ibu

Seorang Ibu bertugas sebagai guru pertama dan utama untuk mengasuh dan mendidik anak, yang mana harus fokus pada teknis dan detail. Ibu harus upgrade diri dengan berbagai ilmu yang terus berkembang.

Ibu berperan penting dalam membelikan supply femininitas, ketulusan, cinta, dan defensive. Anak perempuan yang mendapat supply feminitas cukup dari Ibunya, maka ia terinpirasi untuk menjadi seperti ibunya. Sedangkan anak laki-laki yang mendapat supplay femininitas secara cukup, dia kelak akan mencari istri yang seperti ibunya.

Fase Tumbuh Kembang Anak dalam Islam

fase tumbuh kembang anak

Fase Rodho’ah (Penyusuan)

Fase kelekatan ini berlangsung sejak usia 0 sampai 2 tahun. Ketika orang tua menyentuh, menggendong, dan memeluk, maka anak percaya bahwa orang yang paling aman di dunia ini adalah orang tuanya.

Fase Thufulah (Anak usia dini)

Fase thufulah terjadi pada usia 2 sampai 7 tahun. Pada usia ini kehadiran ayah dan ibu harus hadir. Karena fase thufulah adalah pondasi. Maka pada 7 tahun pertama usia anak, orang tua harus menguatkan fondasinya.

Fase Tamyiz (Membedakan)

Di usia 7 sampai 10 tahun orang tua harus melatih anak untuk membedakan. Pada usia ini anak harus sudah dikenalkan dengan sesuatu yang terstruktur dan disiplin, contohnya yaitu sholat. Pada fase 7 tahun awal, orang tua juga harus menyiapkan masa transisi untuk periode 7 tahun yang ke dua.

Fase Amrad (Pemuda)

Fase 10 sampe 15 tahun adalah fase pemuda, jadi mereka bukan anak-anak lagi. Pada saat ini kita harus memperlakukannya sebagai seorang pemuda. Contoh treatmen yang bisa dilakukan yaitu dengan memberinya peran di masyarakat dan tantangan yang besar.

Fase Baligh

Fase baligh dimulai saat usia anak lebih dari 15 tahun. Usia 15 tahun adalah batas akhir baligh. Jika anak Anda belum manstruasi atau mimpi basah di usia itu, maka dia tetap dikatakan baligh. Di atas 15 tahun, anak-anak disebut sebagai orang dewasa atau setara dengan Vie. Jadi idealnya dia sudah tidak lagi minta uang, dll.

Kunci Pendidikan Islam

kunci utama dalam mendidik anak

Pendidikan Tauhid

Orang tua harus menguatkan pendidikan iman (tauhid) pada anak di fase usia 0-7 tahun. Pada usia ini tauhid anak harus kuat karena itu adalah modal untuk melanjutkan pendidikan selanjutnya. Fase menguatkan tauhid ini penting untuk dilakukan agar anak tahu alasan kenapa dia melakukan dan untu siapa dia melakukannya.

Pada fase ini kenalkanlah anak kepada Allah SWT, Rasulullah SAW, dan kuatkan niat dia bahwa hidupnya hanya untuk Allah SWT. Anak kita adalah seorang manusia, dan manusia harus melakukan setiap halnya berdasarkan niat. Nantinya dia harus mempunyai mindset bahwa apapun yang dia lakukan itu harus karena Allah SWT.

Pendidikan Adab

Mengajarkan anak mengenai adab ini dilakukan setelah si anak diajarkan tentang iman. Hal ini dilakukan agar dalam penerapan adabnya nanti dia melakukannya karena Allah SWT. Jika si anak beradab karena orang tuanya, maka dia hanya akan beradab di depan orang tuanya.

Saat mendidik adab karena Allah, sesungguhnya Vie mengajak anak untuk menghayati bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui. Sehingga diharapkan nantinya anak-anak akan tetap beradab dalam kondisi apapun, baik saat sendiri ataupun ramai. Pendidikan adab atau tata krama dapat dikenalkan dan dikuatkan saat usia anak berada pada rentang 7 sampai 10 tahun.

Pendidikan Ilmu

Pemberian pendidikan ilmu setelah diberikan pendidikan iman dan adab terlebih dahulu, bertujuan agar si anak bisa beramal sholeh dari setiap ilmunya. Pendidikan akan ilmu pengetahuan ini dilakukan saat usia anak 10 sampai 15 tahun.

Pendidikan Amal

Pendidikan amal (manfaat) diberikan saat usia di atas 15 tahun. Pada usia ini orang tua sebaiknya memperlakukan si anak layaknya seorang sahabat. Sehingga si anak dapat berdiskusi dengan orang tuanya.

Jika saat ini anak Anda mengalami baligh pada usia yang jauh lebih dini, berarti pendidikannya harus lebih dikuatkan lagi. Sehingga mereka bisa benar-benar mandiri dan memiliki kedewasaan mental dan fisik yang mumpuni sebelum akhirnya diberikan beban syariat.

Ujung Aksara

Pada intinya, untuk bisa menjadi orang tua yang baik itu harus membekali diri dengan ilmu. Orang tua perlu kembali kepada fitrahnya terlebih dahulu. Setelah itu barulah bisa mendidik anak sesuai fitrahnya.


Devie
Perkenalkan, saya adalah de vie. Dalam terjemahan di google translate, de vie berarti kehidupan. Jadi, saya adalah kehidupan :D Pembaca blog ini saya sebut dengan panggilan Vie alias Viewers :) So kita samaan dong :D

Related Posts

11 comments

  1. MasyaAllah lengkap sekali, makasih mbak jangan lupa menjadi orang tua yang bahagia juga ❤

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oiya, harus jadi orang tua yang bahagia juga ya. Makasih reminder nya Mba

      Delete
  2. MasyaAllah lengkap sekalii mbak, sangat terbnatu untuk aku yang masih menjadi orangtua baru hehe

    ReplyDelete
  3. MasyaAllah mba... terus belajar menjadi orang tua yang baik, karena kunci peradaban ada pada orang tuanya.

    ReplyDelete
  4. Maa shaa Allah mbaa
    Lengkap dan lugas penjelasannya, bisa menjadi bekal ilmu buat calon atau para ortu nih

    ReplyDelete
  5. Artikel yang bagus sekali mbak super lengkap dan membantu sekali untuk saya.. Terimakasih mbak

    ReplyDelete

Post a Comment