#

Mampukah Meminimalisir Fenomena Fatherlessness di Masa yang Akan Datang?

Post a Comment
fatherless
Fatherlessness, atau ketiadaan figur ayah dalam kehidupan anak, merupakan isu sosial yang signifikan dengan dampak kompleks terhadap anak-anak, keluarga, dan masyarakat. Kata "fatherless" dalam bahasa Inggris berarti "tanpa ayah" atau dapat merujuk pada sesuatu yang kehilangan figur ayah atau kehadiran seorang ayah.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia pada tahun 2020, jumlah penduduk Indonesia terdiri dari sekitar 133.47 juta laki-laki dan sekitar 131.54 juta perempuan. Meskipun jumlah laki-laki lebih banyak dari pada perempuan, Indonesia masih diterpa isu sebagai negara fatherless. Ini menggambarkan bahwa banyaknya jumlah laki-laki tidak menjamin bahwa keberadaannya menghadirkan kehangatan peran seorang ayah.

Isu terkait fatherless yang ada di Indonesia ini berawal dari acara Kick Andy pada tahun 2011. Berdasarkan uraian di kumparan.com, acara tersebut bertema "Ancaman Seks Bebas di Kalangan Remaja" yang ditayangkan pada 05 Februari 2011. Namun sejauh ini belum ada riset yang membuktikan bahwa Indonesia adalah negara fatherless peringkat ke-3 di dunia.

Peran Ayah dalam Mendidik Anak

Ayah berperan penting dalam memberikan dukungan emosional dan sosial kepada anak-anak. Kehadiran ayah yang terlibat secara aktif dalam kehidupan anak dapat membantu dalam mengembangkan keterampilan sosial, membangun kepercayaan diri, dan mengatasi tantangan emosional.

Studi menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki hubungan yang baik dengan ayah mereka cenderung lebih stabil secara emosional. Ayah juga memainkan peran penting dalam membantu anak-anak mengembangkan identitas mereka. Kehadiran ayah yang positif dapat memberikan model peran laki-laki yang sehat dan memperkuat identitas gender anak-anak.

Keterlibatan ayah dalam mendukung pendidikan dan pembangunan karier anak-anaknya memiliki dampak yang signifikan terhadap prestasi akademik dan keberhasilan karier di masa depan. Anak-anak yang merasa didukung oleh ayah mereka cenderung memiliki motivasi yang lebih besar untuk mencapai tujuan pendidikan dan karier mereka.

Ayah juga berkontribusi pada stabilitas keluarga dengan memainkan peran dalam dukungan finansial dan struktur keluarga yang sehat. Keluarga yang memiliki ayah yang hadir umumnya lebih stabil secara ekonomi dan memberikan lingkungan yang lebih aman dan mendukung bagi anak-anak mereka

Penyebab Fatherlessness

Fatherlessness, atau kondisi di mana anak tumbuh tanpa kehadiran ayah dalam kehidupannya, telah menjadi masalah yang semakin diperhatikan oleh masyarakat modern. Berbagai faktor kompleks mempengaruhi fenomena ini dan berikut adalah beberapa penyebab fatherlessness.

1. Perceraian dan Pembubaran Keluarga

Salah satu penyebab utama fatherlessness adalah perceraian atau pembubaran keluarga. Ketika pasangan tidak lagi mampu mempertahankan hubungan mereka, anak-anak sering kali harus berpisah dari salah satu atau kedua orang tua mereka. Ini dapat mengarah pada situasi di mana anak tumbuh tanpa kehadiran ayah secara intens dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Menurut penelitian oleh Cherlin (2010), perceraian adalah faktor utama yang menyebabkan fatherlessness di banyak masyarakat modern. Keluarga yang bercerai sering kali menghadapi tantangan dalam mempertahankan keterlibatan ayah dalam kehidupan anak-anak setelah perpisahan.

2. Kematian Ayah

Kematian ayah juga merupakan penyebab signifikan dari fatherlessness. Meskipun ini merupakan situasi yang lebih tidak terduga daripada perceraian, efeknya terhadap kehidupan anak-anak sama-sama berdampak besar. Kehilangan seorang ayah dapat meninggalkan kesenjangan emosional dan kehilangan sosial yang mendalam, yang dapat mempengaruhi perkembangan anak secara signifikan.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Bowlby (1980), kehilangan seorang ayah karena kematian dapat memicu reaksi emosional dan psikologis yang kompleks pada anak-anak, yang mungkin mempengaruhi cara mereka memandang diri mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka.

3. Tidak Hadirnya Ayah 

Ada juga situasi di mana fatherlessness terjadi sebagai hasil dari pilihan sadar oleh ayah untuk tidak hadir dalam kehidupan anak-anak mereka. Ini bisa menjadi hasil dari berbagai alasan, termasuk ketidakmampuan atau ketidakmauan untuk memenuhi tanggung jawab sebagai orang tua, masalah kesehatan mental atau fisik, atau faktor-faktor ekonomi yang membuat mereka tidak dapat berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan keluarga.

Hal yang juga berpotensi menjadi penyebab yaitu karena dia tidak memiliki pengetahuan yang memadai, luka innerchild yang mungkin disebabkan kurangnya kasih sayang ataupun tidak memiliki role model yang tepat tentang figur orang tua, dan lain sebagainya. Ketidakhadiran ayah ini tetap mungkin terjadi meskipun sang ayah ada di dekat anak. Karena yang dibutuhkan yaitu kehadiran peran ayah secara utuh, dan bukan hanya tentang kehadiran fisik saja.

Dampak Fatherless pada Anak

1. Psikologis

Penelitian menunjukkan bahwa fatherlessness dapat memiliki dampak psikologis yang mendalam pada anak-anak. Menurut penelitian oleh McLanahan dan Sandefur (1994), anak-anak yang tumbuh tanpa figur ayah sering mengalami masalah emosional dan perilaku yang lebih tinggi, seperti depresi, kecemasan, dan perilaku kenakalan remaja.

Ketiadaan figur ayah dapat menyebabkan kesulitan dalam membentuk identitas diri dan harga diri, karena ayah umumnya memainkan peran penting dalam memberikan stabilitas emosional dan arahan. Dampak psikologis ini akan menciptakan efek bola salju karena akan mempengaruhi berbagai aspek lainnya yang lebih luas.

2. Tantangan dalam Pendidikan dan Karier

Fatherlessness juga terkait dengan tantangan dalam pendidikan dan karier bagi anak-anak. Studi menunjukkan bahwa anak-anak dari keluarga fatherless cenderung tampil buruk di sekolah dan memiliki tingkat pencapaian pendidikan yang lebih rendah dibandingkan dengan teman sebaya yang memiliki ayah dan merasakan kehadiran akan perannya (Amato, 2005). Dukungan dan dorongan dari figur ayah sering berperan penting dalam motivasi akademis dan pencapaian.

3. Konsekuensi Sosial dan Ekonomi

Secara ekonomi, fatherlessness dapat berkontribusi pada peningkatan tingkat kemiskinan dan ketidakstabilan keuangan dalam keluarga. Menurut laporan dari National Fatherhood Initiative (2019), rumah tangga tanpa ayah lebih rentan mengalami kesulitan ekonomi karena absennya pendapatan kedua dan tantangan yang dihadapi oleh rumah tangga dengan satu orang tua. Hal ini dapat memperpanjang siklus kemiskinan dan membatasi peluang untuk kemajuan sosial-ekonomi.

Mengantisipasi Fenomena Fatherlessness

Fenomena fatherlessness atau ketiadaan seorang ayah dalam kehidupan anak-anak telah menjadi isu sosial yang signifikan dalam masyarakat modern. Hal ini dapat memiliki dampak yang luas terhadap perkembangan anak-anak, termasuk masalah psikologis, sosial, dan pendidikan. Untuk mengantisipasi dan mengurangi risiko fenomena ini, langkah-langkah proaktif perlu diambil dalam membangun fondasi keluarga yang kuat dan mendukung peran ayah secara optimal.
meminimalisir timbulnya fatherless

1. Meningkatkan Kesadaran akan Pentingnya Peran Ayah

Penting bagi masyarakat untuk mengakui dan menghargai peran unik yang dimainkan oleh seorang ayah dalam keluarga. Ayah bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai figur yang memberikan dukungan emosional, mendidik nilai-nilai, dan membentuk identitas anak-anak. Dengan meningkatkan kesadaran akan pentingnya peran ini, dapat mendorong lebih banyak ayah untuk terlibat secara aktif dalam kehidupan anak-anak mereka.

2. Mendorong Keterlibatan Ayah dalam Pendidikan dan Perkembangan Anak

Salah satu cara efektif untuk mengantisipasi fatherlessness adalah dengan mendorong keterlibatan ayah secara langsung dalam pendidikan dan perkembangan anak-anak. Ayah dapat terlibat dalam membantu tugas sekolah, mengajarkan keterampilan hidup, atau terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler anak-anak. Ini tidak hanya memperkuat hubungan keluarga, tetapi juga membantu anak-anak merasa didukung dan dicintai oleh figur ayah mereka.

3. Memperkuat Hubungan Keluarga

Membangun hubungan yang sehat dan kuat antara semua anggota keluarga adalah kunci dalam mengurangi risiko fatherlessness. Komunikasi yang terbuka, penghargaan satu sama lain, dan pengambilan keputusan bersama adalah hal-hal yang penting untuk dibangun dalam keluarga. Ini membantu menciptakan lingkungan yang aman dan stabil bagi anak-anak untuk tumbuh dan berkembang.

4. Mengedukasi Masyarakat tentang Dampak Negatif Fatherlessness

Pendidikan masyarakat tentang dampak negatif fatherlessness dapat membantu mengubah persepsi dan memberdayakan komunitas untuk bertindak. Mengedukasi orang tua, guru, dan profesional kesehatan tentang cara-cara mendukung peran ayah dan pentingnya kehadiran ayah dapat berdampak positif dalam mengurangi angka fatherlessness.

5. Program Dukungan Ayah

Fatherless bisa diminimalisir dengan memberikan program-program yang dapat mendukung seorang laki-laki dalam membentuk tanggung jawab dan peranannya sebagai seorang ayah. Yang mana pengembangan program-program dukungan ayah ini menyediakan forum untuk mendiskusikan peran ayah, keterlibatan dalam keluarga, dan strategi untuk membangun hubungan yang lebih kuat antara ayah dan anak-anak dapat sangat bermanfaat (Doherty & Smith, 2015).

Di samping itu juga perlu menyediakan pelatihan keterampilan parenting khusus untuk ayah dapat membantu mereka merasa lebih percaya diri dalam peran mereka sebagai orang tua, memperkuat hubungan dengan anak-anak, dan meningkatkan keterlibatan mereka dalam kehidupan keluarga.

6. Mengikutsertakan Ayah dalam Perencanaan Keluarga

Sebagian rumah tangga ada yang menerapkan bahwa seorang ayah hanya bertugas mencari nafkah dan persoalan lainnya hanya mengandalkan istri. Pengaplikasian yang semacam ini secara perlahan akan mengikis keikutsertaan ayah dalam perencanaan keluarga. Jika diabaikan hal tersebut akan berpotensi menciptakan fatherlessness.

Maka dari itu, melibatkan ayah dalam pengambilan keputusan tentang perencanaan keluarga, termasuk tujuan pendidikan dan keuangan, dapat meningkatkan rasa tanggung jawab ayah terhadap keluarga serta meningkatkan kualitas hubungan keluarga secara keseluruhan (Parke & Buriel, 2006).

7. Edukasi tentang Peran Ayah dalam Kesehatan dan Kesejahteraan Anak

Edukasi ini dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan kepada ayah tentang dampak positif kehadiran mereka terhadap kesehatan fisik dan kesejahteraan emosional anak-anak dapat memotivasi mereka untuk lebih terlibat dalam perawatan dan pembesaran anak (Cabrera & Tamis-LeMonda, 2013).

8. Kebijakan Dukungan Keluarga

Disamping memberi dukungan dengan memperhatikan skill dan upgrade pengetahuan ayah, lingkungan sekitar juga perlu menunjukkan dukungan yang selaras. Mendukung kebijakan yang memungkinkan ayah untuk mengambil cuti parental yang lebih panjang, mendapatkan dukungan finansial untuk peran sebagai orang tua, dan memiliki akses yang sama terhadap sumber daya keluarga. Kebijakan ini dapat mendorong keterlibatan ayah yang lebih besar dalam keluarga (Craig & Mullan, 2011).

9. Pengembangan Lingkungan Kerja yang Ramah Keluarga

Selain yang telah disebutkan, hal yang tidak kalah pentingnya untuk mendapat perhatian yaitu berlatih menerapkan work life balance dan work life harmony terkait lingkungan kerja yang ramah keluarga. Misalnya dengan memberikan fleksibilitas kerja yang memadai dan dukungan untuk keseimbangan kerja-keluarga dapat membantu ayah untuk lebih terlibat dalam kehidupan keluarga tanpa harus mengorbankan karier mereka (Harrington & Van Deusen, 2015).

Penutup

Fatherlessness merupakan isu krusial dengan dampak yang meluas bagi individu dan masyarakat secara keseluruhan. Dengan memahami dampak psikologis, pendidikan, dan ekonomi yang terperinci dalam literatur terkini, masyarakat dapat mengembangkan intervensi dan kebijakan yang tertuju untuk mendukung keluarga yang menghadapi fatherlessness. Mampu atau tidaknya meminimalisir fenomena fatherlessness di masa yang akan datang itu tergantung pada kita semua.

Pasalnya, mengantisipasi fenomena fatherlessness bukan hanya tanggung jawab individu atau keluarga, tetapi juga tanggung jawab masyarakat secara keseluruhan. Dengan menerapkan strategi-strategi ini mulai dari meningkatkan kesadaran dan keterlibatan ayah hingga mendukung kebijakan dan lingkungan kerja yang ramah keluarga, maka diharapkan kita dapat membangun fondasi keluarga yang kuat dan stabil. Ini tidak hanya akan mengurangi risiko fatherlessness, tetapi juga akan meningkatkan kesejahteraan anak-anak dan masyarakat secara keseluruhan.






Referensi 
- Amato, P. R. (2005). The impact of family formation change on the cognitive, social, and emotional well-being of the next generation. The Future of Children, 15(2), 75-96. Diakses dari jstor.org pada 27 Juni 2024
- Bowlby, J. (1980). Attachment and Loss: Vol. 3. Loss, Sadness and Depression. Basic Books.
U.S. Census Bureau. (2020). Living Arrangements of Children: 2020. Diakses dari census.gov pada 27 Juni 2024
- Cabrera, N. J., & Tamis-LeMonda, C. S. (Eds.). (2013). *Handbook of father involvement: Multidisciplinary perspectives* (2nd ed.). New York, NY: Routledge.
- Cherlin, A. J. (2010). The Marriage-Go-Round: The State of Marriage and the Family in America Today. Vintage Books.
- Craig, L., & Mullan, K. (2011). Parental leisure time: A gender comparison in five countries. *Social Politics: International Studies in Gender, State & Society, 18*(1), 1-23.
- Doherty, W. J., & Smith, T. B. (2015). *Intentional fatherhood: A practical guide to raising sons and daughters*. New York, NY: Routledge.
- Harrington, B., & Van Deusen, F. (2015). *Planned change theories for nursing* (3rd ed.). New York, NY: Springer Publishing Company.- McLanahan, S., & Sandefur, G. (1994). *Growing up with a single parent: What hurts, what helps*. Harvard University Press.
- National Fatherhood Initiative. (2019). *Father absence and its impact on child and adolescent development: A research brief.* Diakses dari fatherhood.org pada 27 Juni 2024



Devie
Perkenalkan, saya adalah de vie. Dalam terjemahan di google translate, de vie berarti kehidupan. Jadi, saya adalah kehidupan :D Pembaca blog ini saya sebut dengan panggilan Vie alias Viewers :) So kita samaan dong :D

Related Posts

Post a Comment