Di Indonesia fenomena menikah terkadang dijadikan solusi oleh sebagian orang atas berbagai masalah yang sedang dihadapi. Tidak jarang orang berfikir bahwa saat lelah kuliah, lelah bekerja, ataupun lelah dengan berbagai persoalan hidup lalu berfikir untuk segera menikah saja agar bisa mengakhiri segala penderitaan itu.
Padahal realitanya yaitu ketika seseorang menikah maka tidak serta merta semua permasalahan sebelumnya akan langsung hilang atau terselesaikan begitu saja. Alasan lainnya bisa jadi keputusan untuk menikah itu adalah hasil dari kebiasaan berulang di masyarakat agar seseorang memenuhi ekspektasi orang-orang disekitarnya.
Contohnya saat orang berkata, kapan kamu nikah, kapan punya anak, kapan tambah anak, kamu kerja apa, berapa gaji kamu, dll. Saat Anda ter-trigger untuk menjawab ekspektasi-ekspektasi tersebut. Lalu Anda melakukan semua hal itu hanya untuk mendapatkan validasi dari orang lain tanpa mempertimbangkan apa yang sebenarnya diri sendiri inginkan dan butuhkan.
Hal-hal yang Sering Terlupakan Saat Memutuskan Menikah
1. Butuh Ilmu, Praktik, dan Kematangan Mental
Pernikahan itu seperti memasuki dunia baru yang justru membutuhkan banyak ilmu. Tidak hanya ilmu tentang saat akan mempersiapkan pernikahan. Pada dasarnya ilmu yang dibutuhkan untuk menyambut sebuah keputusan menikah ini sangat kompleks, meski demikian bukan berarti Anda harus menguasai seluruhnya sebelum menikah. Tapi juga bukan berarti Anda bisa mengesampingkan berbagai ilmu tersebut.Mungkin sebagian orang menyepelekan tentang ilmu tentang mempersiapkan pernikahan, tapi sebetulnnya sebelum menikah atau saat akan mempersiapkan pernikahan juga butuh ilmu. Apalagi setelah mengucapkan akad nikah, maka perlu ilmu yang lebih kompleks.
Bagi yang mengetahui dan memahami ilmunya, tentunya sudah paham bahwa pernikahan adalah hal sakral yang selain membutuhkan pemahaman ilmu yang baik tapi juga perlu mengaplikasikannya dengan tepat. Sehingga di kehidupan pernikahan nantinya tidak hanya menuntut hak saja tapi juga melakukan kewajibannya masing-masing.
Salah satu ilmu yang paling utama dan pertama yaitu ilmu agama. Meski demikian ilmu agama ini juga perlu diintegrasikan dengan berbagai ilmu lain sesuai bidangnya. Anda juga perlu update sesuai perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang ada saat ini. Agar bisa mendidik diri sendiri dan buah hati sesuai zamannya.
Selain ilmu yang dipraktikkan, kematangan emosi juga merupakan komponen penting di dalamnya. Pada dasarnya ilmu bisa didapatkan dengan berbagai cara, baik melalui membaca buku, mendengar podcast, mengikuti seminar, konten-konten di sosial media sosial, mengamati lingkungan, atau metode lainnya. Salah satu contohnya yaitu dengan membaca buku parenting tentang cara orang Denmark mendidik anaknya.
2. Berdamai dengan Diri Sendiri
Sampai saat ini apakah Anda sudah mengenal diri sendiri? Apakah Anda sudah berdamai dengan diri sendiri? Atau justru berharap bahwa pasangan yang nantinya akan mengenalkan tentang siapa diri Anda kepada Anda?Lalu bagaimana jika ternyata di dalam masa hidup Anda tersimpan luka yang secara tidak sadar sudah dinormalisasi. Apakah Anda juga berharap bahwa pasangan yang menyembuhkan Anda dari segala luka itu? Bagaimana jika ternyata pasangan Anda justru memiliki kondisi yang sama?
Pada dasarnya semua itu tentang pilihan dan konsekuensi. Namun akan lebih baik jika Anda yang mulai bergerak menyadari segala hal tentang diri, berdamai, dan menyembuhkan itu? Apakah Anda yakin bahwa pasanganmu mampu melakukan itu jika Anda sendiri belum memiliki kesadaran untuk mengetahui maupun untuk berubah?
Sebagaimana yang sering terekspose di dunia maya bahwa tidak semua orang bersedia untuk menyembuhkan setiap luka yang ada pada pasangannya, terlebih lagi jika pasangannya itu tidak mau berubah. Karena pada dasarnya dia sendiri juga mungkin perlu menyembuhkan dirinya sendiri.
3. Persoalan Anak
Memiliki keturunan adalah salah satu hal yang sering didambakan dalam sebuah keluarga. Meski demikian, tidak berarti bahwa semua orang pasti menginginkannya. Di sisi lain, mayoritas orang selalu berekspektasi pada pasangan yang sudah menikah untuk segera memiliki anak. Terkadang ekspektasi-ekspektasi semacam itu menjadi tekanan tersendiri.Jika berencana untuk memiliki anak maka perlu ada kesadaran untuk mau belajar berbagai ilmu yang berkaitan tentang anak. Mulai dari persiapan untuk menyambut buah hati, cara mengenali dan menyalurkan potensinya, cara memperlakukannya, cara mendidiknya baik tentang agama maupun berbagai ilmu lainnya.
Seperti yang sudah kita ketahui bahwa di Indonesia masih banyak yang menganggap anak sebagai investasi, sehingga harus membiayai orang tuanya tanpa memperhatikan dirinya sendiri. Berlaku baik kepada orang tua adalah hal yang terpuji, tapi bukan berarti kebutuhan si anak menjadi tidak penting lalu dianggap sebelah mata.
Seperti yang sudah kita ketahui bahwa di Indonesia masih banyak yang menganggap anak sebagai investasi, sehingga harus membiayai orang tuanya tanpa memperhatikan dirinya sendiri. Berlaku baik kepada orang tua adalah hal yang terpuji, tapi bukan berarti kebutuhan si anak menjadi tidak penting lalu dianggap sebelah mata.
Selain keputusan untuk menikah, keputusan untuk memiliki anak juga merupakan keputusan besar yang perlu Anda perhatikan. Anda dan pasangan perlu menyadari bahwa anak juga memiliki hak dan kewajiban. Pertimbangkan apakah Anda dan pasangan sudah siap untuk memenuhi hak-hak anak sejak dia dalam perencanaan sampai akhir hayatnya nanti.
4. Agama, Budaya, dan Bahasa
Mencintai seseorang yang kita pilih untuk menjadi pendamping hidup selamanya adalah hak setiap orang. Dan saat Anda memutuskan untuk menikahinya, maka ada hal yang perlu diperhatikan sebelum akhirnya lanjut ke jenjang sakral tersebut.Setidaknya ada tiga hal penting yang perlu Anda pertimbangkan yaitu agama, budaya, dan bahasa. Ketika Anda dan pasangan memiliki agama yang berbeda, maka diskusikan langkah apa yang akan ditempuh selanjutnya. Apakah akan ada yang pindah agama atau solusi apa yang akan dipilih.
Bagaimanapun juga perbedaan agama akan membuat seseorang berbeda pula dalam memandang kehidupan. Jangankan yang berbeda agama, sesama agama pun Anda juga harus memastikan apakah ibadahnya sejalan dengan keyakinan Anda atau tidak.
Yang selanjutnya yaitu budaya dan bahasa, kedua tantangan ini mungkin akan dijumpai jika Anda memutuskann untuk menjalin kasih dengan Warga Negara Asing. Namun jika Anda sesama Warga Negara Indonesia, maka dua hal ini tidak terlalu membuat Anda shock karena Bahasa Indonesia bisa dijadikan bahasa komunikaso dalam kehidupan sehari-hari.
Lain halnya jika dengan WNA, selain budayaa, Anda juga perlu mempertimbangkan tentang bahasa. Bahasa mana yang nantinya akan digunakan untuk berkomunikasi antara Anda dan pasangan. Dan siapa yang nantinya harus mempelajari bahasa tersebut agar bisa melakukan komunikasi dengan baik.
5. Finasial
Selain butuh kesiapan secara mental, pernikahan juga membutuhkan kesiapan secara finansial. Kehidupan pernikahan membutuhkan dukungan finansial yang tidak sedikit. Bahkan ada yang merasa hanya menjadi pembantu karena dia yang mencari uang tapi uang itu terasa begitu cepat habis.Ada pula yang merasa bahwa menghidupi keluarganya adalah suatu beban yang menyusahkannya. Tidak bisa dipungkiri bahwa dikehidupan nyata benar adanya bahwa ada kalanya anggota keluarga yang menggunakan keuangan keluarga dengan tidak bijak.
Tapi ternyata ada pula yang sudah berusaha mengalokasikan dana keluarga sebijak mungkin tapi tetap di anggap beban oleh pasangannya. Ini menunjukkan bahwa ilmu tentang keuangan, keagamaan, dan kesiapan secara finansial juga diperlukan sebelum Anda memutuskan untuk menikah.
Persoalan keuangan ini juga perlu Anda bicarakan sebelum lanjut kejenjang pernikahan. Pasalnya ada kontent yang menyebutkan bahwa ada pula tipe laki-laki yang dia hanya membiayai keluarganya sesuai kesepakatan awal. Jika diawal sudah mengatakan bahwa dia penganut 50 %- 50% maka dia hanya mau membayar 50 % dari biaya selama pernikahan berlangsung, jadi sebaiknya Anda membicarakan hal-hal terkait keuangan sejak awal.
Beberapa hal diatas hanya sebagian kecil dari banyaknya hal yang perlu dipertimbangkan dan dipahami sebelum Anda memutuskan menikah. Dan hal yang juga seringdilupakan yaitu manusia sering menuntut agar pasangannya selalu terbuka, tapi sayangnya kerap kali dia sendiri belum siap menerima keterbukaan itu.
Pada akhirnya semua itu tergantung keputusan yang akan Anda buat. Apapun keputusan yang Anda buat, bersiaplah untuk segala konsekuensi yang akan diterima. Karena apa yang terjadi pada hidup Anda adalah tanggung jawab Anda.




Posting Komentar
Posting Komentar